CINTA, kini bagaikan dewa baru di abad ini. Dia dinamakan dewa baru, karena atas nama CINTA, sepasang homoseks (gay) merasa kalau perilakunya yang abnormal itu benar, dan berhak menjalin hubungan sebagaimana layaknya antara pria dan wanita. Bahkan, pasangan yang sama-sama berjenis kelamin laki-laki ini dapat menikah. Argumentasinya sederhana saja: Daripada pria dan wanita menikah namun tidak ada CINTA, lebih baik sepasang pria (gay) menikah dengan dilandasi CINTA. Padahal, perilaku homoseks – meski dengan alasan CINTA – adalah perbuatan dosa dan secara jelas dilarang dalam Alkitab (Imamat 18:22, Roma 1:27)