
Tahun Baru (1 Januari), sebagai perayaan terus melesat maju memimpin Natal (25 Desember). Apa maksudnya? Apakah ini sebuah persaingan sehingga ada yang maju dan ada pula yang tertinggal? Yang pasti, Alkitab tidak pernah menganjurkan, apalagi memerintahkan umat kristiani berbondong-bondong bertahun baru. Natal (25 Desember), memang memiliki makna teologis dan historis bagi iman Kristen. Momen ini penting sebagai perhentian bagi umat, untuk merenung kesediaan Juru Selamat, melawat umat yang bejat karena dosa.
Berabad-abad, peringatan itu bergerak dinamis dalam pasang surut kesadaran umat. Hanya saja, kecenderungan akhir-akhir ini tampak agak menjebak, yakni lumuran kemewahan atas Natal dengan alasan perayaan besar. Padahal, sejatinya kebesaran Natal tidak pernah digambarkan Alkitab dalam perayaan, melainkan dalam kerelaan Sang Juru Selamat, untuk bertemu umat (sekalipun berlangsung dalam nuansa penolakan, dan tidak ada tempat yang tersedia bagi DIA).