ISU seputar hak asasi manusia (HAM) terus bergulir deras seturut dengan konteks yang ada. Di ladang politik, HAM menjadi komoditi utama tarik-menarik kepentingan. Bagi pemerintah, kalimat “Kami sangat menghargai HAM” menjadi slogan. Pidato dengan bahasa populis pun akan penuh kata “mari saling menghargai”, sekalipun dalam kenyataan akan lain. Di sisi lain, para demonstran yang datang dari berbagai latar belakang, selalu menempatkan diri sebagai yang tertindas, yang HAM-nya dilindas. Namun sama, mereka pun bisa beringas, mencipta kerusakan tanpa penggantian.