
JUDUL ini bukanlah judul keputusasaan, atau ketidakmampuan untuk menikmati hidup, melainkan sebuah judul yang sangat realistis, yang terinspirasi dari kitab Pengkhotbah. Kitab yang memuat banyak kata “sia-sia” ini, seringkali disalah mengerti sebagai kitab yang pesimis. “Negative thinking,” kata penggemar kata positive thingking. Padahal, kitab ini sangat realistis dan selalu aktual.
Dalam Pengkhotbah 4: 2 dikatakan, “Oleh sebab itu aku menganggap orang-orang mati, yang sudah lama meninggal, lebih bahagia daripada orang orang hidup yang sekarang masih hidup”. Di ayat 1, Pengkhotbah melukiskan kehidupan dalam dua sisi, yaitu, penindas dan yang ditindas. Pada yang ditindas tak ada penghiburan, namun itu tidak berarti sang penindas penuh kesukaan dan bebas dari kegelisahan. Suasana itu segera terlihat pada ayat 2, di mana Pengkhotbah mengatakan, “bahwa kematian ternyata lebih baik dari kehidupan”. Artinya, baik penindas maupun yang ditindas, sama “merindukan” kematian. Yang ditindas memang mengalami kesakitan, namun yang menindas juga memiliki ketakutan terhadap kemungkinan perlawanan dari yang ditindas.