Profetik

Mewartakan Injil Lewat Media

Author : Pdt. Bigman Sirait | Mon, 6 September 2010 - 15:03 | visits : 3247

Kini adalah adalah era informasi, dan IT telah menjadi primadonabaik dalam hardware, maupun software. Teknologi informasi telah membuat jarak terasa sangat dekat, dan kecepatan menjadi sangat tinggi. Teknologi ini telah meniscayakan penyampaian berita dengan cepat keberbagai tempat, dan juga kemajemukan strata pembaca yang luar biasa. Semua orang, diberbagai tempat, kegiatan, bisa mengakses pada waktu yang bersamaan. Media telah membuatnya bagaikan sebuah rapat besar saja. Keunggulan media harus menjadi perhatian gereja dalam menyuarakan Injil.

Inilah yang menjadi konsen kelahiran PAMA beberapa tahun silam. Terus bergerak dalam kesederhanaan dan keterbatasan dana, PAMA, oleh dan dalam kemurahan Tuhan, dimungkinkanlah pemberitaan injil melalu 30 stasiun radio, 2 TV berlangganan. PAMA juga membidani kelahiran tabloid Reformata yang kini tampil dalam dua model, yaitu berita harian melalui on line; www.reformata.com, dan cetak yang terbit sebulan sekali.

Untuk CD khotbah PAMA telah memiliki lebih dari 100 tema khotbah (1 tema terdiri dari 4 sub tema), dengan durasi siar 22 menit. Jadi ada terse-dia 400 tema, dan se-muanya sistimatik. Arti-nya bukan khotbah di-gereja atau persekutuan yang kemudian disiarkan. Semua disiapkan dengan modul khusus yang ter-pola. Juga ada hampir seratus dalam bentuk DVD. Jika untuk CD, PAMA sudah memiliki alat untuk rekam dan edit sendiri, maka untuk DVD kita belum memilikinya. Produksi dan editing DVD masih keluar . PAMA rindu paling tidak memiliki alat transfer dan edit dari mini DVD ke DVD, doakan.

Kembali kesoal pemanfaatan media untuk pemberitaan injil, PAMA terus setia membenahi diri, dalam model maupun mutu pemberitaan, khususnya DVD. Dalam catatan berjalan kami melihat bagaimana siaran ini telah menjadi berkat bagi banyak umat Tuhan. PAMA sangat merindukan suatu waktu terbentuk lembaga konseling bagi pendengar atau pemirsa yang membutuhkan. Tapi kami tak mau ini hanya sekedar ada, sesuai semangat memberikan yang terbaik untuk Tuhan. Sekedar ada itu mudah, cukup mempersiapkan orang menampung persoalan dan mengajaknya berdoa. Jika ini yang dilakukan maka pemberitaan injil akan terjebak dalam tataran emosi saja, padahal ini soal jiwa. Membuat yang terbaik memang tak mudah, namun bukan berarti tak mungkin. Sama seperti bulletin ini, yang terpaksa cukup lama dihentikan, karena kekurangan SDM, dan konsentrasi penuh kepada produksi siaran.

Pemberitaan Injil sesuai amanat agung (Mat 28:19-20), harus kontiniu dan konsisten dilakukan. Dan kini, dengan teknologi kita tertolong untuk menjangkau lebih banyak lagi jiwa jiwa untuk mendengan injil. Coba saja bayangkan, jika secara konservatif pendengar sebuah stasiun radio rata rata 15 ribu, maka setiap minggunya, pemberitaan injil yang kita lakukan telah menjangkau 450 ribu jiwa. Ditambah 2 stasiun TV sebanyak 100 ribu orang, maka total setiap minggunya kita memberitakan injil kepada 650 ribu orang. Betapa luar biasanya, dan dalam keteraturan materi pemberitaan membuat apa yang kita kerjakan sangat efektif. Sementara dari segi pembiayaan sangat efisien. Disisi lain, pemberitaan injil lewat media menjadi ruang yang sangat terbuka, karena bisa diakses oleh siapapun tanpa paksaan. Pemberitaan ini lintas suku, budaya, bahkan agama. Khotbah pengajaran, apologetika yang bermutu, menantang setiap orang untuk memikirkan ulang kebenaran yang didengar atau ditontonnya.

Tahun 2010, PAMA terus melengkapi diri, dan bermaksud untuk terus menerus menambah stasiun radio dalam rangka memperluas wilayah pemberitaan. Paling tidak tahun ini diharapkan ada 50 stasiun radio. Akan muncul kebutuhan dana yang tak kecil, itu sudah pasti. Namun ada yang lebih pasti dan harus, yaitu pemberitaan injil lewat media demi mencapai dan memenangkan lebih banyak lagi jiwa jiwa bagi Tuhan. Soli Deo Gloria.

 

Comments


Group

Top