Setiap merayakan Jumat Agung, ingatan kita pasti tertuju ke Bukit Golgota. Di kayu salib, meski sudah menderita, Dia masih berseru: “Bapa, ampunilah mereka, sebab mereka tidak tahu apa yang mereka perbuat.” (Lukas 23: 34). Ini menarik kita renungkan: Apakah orang yang menyalibkan Dia itu memang tidak tahu apa yang mereka lakukan? Apakah mereka layak lolos dari tanggung jawab karena ketidaktahuan itu?
Mereka pasti tahu, karena secara sadar menuduh Yesus melakukan kesalahan. Dengan sadar pula Pontius Pilatus mengadili sekaligus mengesahkan hukuman bagi-Nya, sekalipun kesalahan-Nya tidak ditemukan. Mereka tahu apa yang mereka lakukan, bahkan Yesus telah menjadi target. Tetapi, mengapa Yesus justru mengatakan kalau mereka tidak mengerti apa yang mereka lalukan, sehingga meminta Bapa Surgawi mengampuni?
Dalam perspektif teologis kita bisa melihat bahwa orang-orang berdosa adalah orang yang bodoh tentang kebenaran, karena dosa telah menghitamkan, meluluhlantakkan seluruh kehidupannya, sehingga tidak mampu untuk membaca, mengamati dan memahami kebenaran. Maka dapat dikatakan bahwa orang-orang yang menyalibkan Yesus itu adalah orang-orang bodoh, karena tidak mengenal bahwa Yesus adalah Tuhan dan Juruselamat dunia.
Ahli-ahli Taurat selaku institusi resmi keagamaan tersenyum karena beranggapan mereka telah menggapai kemenangan dengan membungkam mulut Yesus yang selalu mengemukakan kebenaran--hal yang tidak nyaman bagi para ahli Taurat yang munafik itu. Kebenaran yang dikemukakan Yesus itu memang menggugat perilaku mereka. Mereka tidak tahu apa yang mereka lakukan karena sebetulnya mereka tidak tahu siapa diri mereka. Mereka tidak tahu siapa anak Allah itu sehingga memperlakukan Dia dengan sangat hina. Mereka terlalu bodoh untuk mengenal Dia adalah Tuhan yang hidup. Mereka tidak mengenal Yesus karena mata mereka telah dibutakan dosa. Jadi mereka pantas dikasihani, dan itulah yang dilakukan Yesus.
Secara naluri kemanusiaan, kita tidak bisa menerima ini. Karena Dia-lah yang mestinya menghukum orang-orang berdosa. Tetapi rasa belas kasihan-Nya telah menciptakan terobosan untuk memahami posisi orang-orang yang menyalibkan itu. Kita seringkali merasa diri benar, merasa diri hebat, karena dilumuri dosa yang melimpah sehingga tidak mampu memahami kebenaran. Ketidakmengertian akan dosa, membuat kita gelap mata sehingga tidak lagi mampu memahami eksistensi kita dan bagaimana seharusnya kita hidup.
Karena itu, kita mestinya sadar , Bukit Golgota bukan sekadar sebuah bukit memori yang kita kenang setiap Paskah, lalu menangis. Tetapi lebih daripada itu, banyak hal yang harus kita lakukan dalam hidup, menyenangkan hati Tuhan dan melakukan kehendak-Nya. Banyak hal yang mestinya bisa kita lakukan supaya nama-Nya dimuliakan, tetapi kita tidak melakukannya. Kenapa? Karena dosa telah menutup mata kita sehingga tidak dapat melihat kebenaran. Tapi kita beruntung, sebab Dia berkata, “Ampuni mereka, karena mereka tidak mengerti apa yang mereka perbuat.”
Orang yang tidak mengerti tentang apa yang mereka perbuat itu, melihat Yesus sebagai hantu yang meresahkan, musuh yang menggelisahkan. Setiap kalimat yang meluncur dari mulut-Nya serasa menghujam jantung orang-orang munafik serta membuat marah orang yang gemar berbuat dosa, termasuk para ahli agama dan imam. Karena itulah, Yesus adalah masalah yang harus segera diselesaikan!
Di Jumat Agung, Dia disalibkan karena kita dengan sadar berkata, “Salibkan Dia!” Dia disalibkan karena dengan sadar kita berkata bahwa kitalah kebenaran itu. Karena merasa sebagai kebenaran, kita terus menyuarakan suara Tuhan, tetapi tak melakukannya. Kita terus melakukan aktivitas agamawi secara luar biasa, tetapi jauh dari kuasa Allah. Karena itulah Yesus berkata, “Bapa, ampuni mereka karena tidak tahu apa yang mereka perbuat.