Radio

Radio Bahtera Hayat 91,4 Fm Menjangkau Yang Tak Terjangkau

Wed, 16 March 2011 - 17:24 | visits : 3093
Terdengar suara yang lemah, terkulai di tempat tidur, akibat keletihan yang tidak terbendung. Pendiri Radio Bahtera Hayat (RBH), Pdt. Pius Sababalath, ternyata sedang sakit ketika dihubungi PAMA. Dengan tetap menguatkan diri, Pendeta yang penuh sema-ngat ini mulai menguak kisah kehadiran RBH.

DORONGAN MISI
Berawal dari kerinduan yang besar untuk menyampaikan Injil, maka hadirlah RBH (Radio Bahtera Hayat). Radio ini ada di Kota Kuala Kapuas, mengudara setiap pagi pukul 05.00-09.00 WIB. Walau hanya 4 jam, namun program ini begitu berarti bagi pendengar yang miskin berita maupun hiburan.
Menjangkau yang tidak terjangkau, menjadi moto yang menggerakkan pelayanan RBH. Program lagu-lagu rohani dan renungan diramu dengan sederhana, namun tetap menarik, agar dapat menjumpai pendengar hingga ke daerah-daerah terpencil.
Kehadiran RBH sejak 2003 menjadi sarana pemberitaan kasih Allah yang sempurna. “Men-jadi RAJAWALI-RAJAWALI ALLAH untuk ter-bang mengangkasa, lewat program-program rohani, di gelombang 91,4 FM,” inilah impian yang menggelora dari Pdt Pius Sababalath..
Melaksanakan Amanat Agung Tuhan Yesus Kristus (Matius 28:19-20). Mengabarkan berita keselamatan, merupakan rangkaian misi RBH. Siaran radio rohani ini ingin mendorong setiap pendengar untuk bersaksi tentang berita sukacita yang telah diterima.
Harapan RBH selanjutnya, membangun kerja-sama dengan lembaga-lembaga terkait, seperti gereja-gereja atau yayasan-yayasan Kristen lainnya. Agar banyak orang dapat menikmati berita sukacita, yang menyelamatkan.

KOMUNITAS PENDENGAR
Pemberitaan Injil melalui RBH, ternyata memberi dampak yang besar. Ini terbukti mela-lui komunitas pendengar yang langsung difollowup oleh Pdt. Pius Sababalath. Perkun-jungan dilakukan ke daerah-daerah setempat.
Demi membangun relasi dengan pendengar, maka Pdt. Pius Sababalath melakukan perjala-nan kunjungan ke beberapa tempat. Dalam perkunjungan ini RBH menyumbangkan beberapa pesawat radio kepada pendengar.
Kebahagiaan yang tak terbendung, ketika mendengar kesaksian pendengar RBH yang bertobat dan menerima Yesus secara pribadi. “Ada pula pendengar yang selama tiga tahun sakit lumpuh, setelah mendengar KABAR BAIK lewat RBH, imannya dibangkitkan dan kini telah sembuh oleh kemurahan Tuhan,” kisah Pdt. Pius Sababalath.
RBH menjadi alat Tuhan untuk menjumpai banyak jiwa agar diselamatkan. Perkunjungan yang dilakukan menemui pendengar yang ingin didoakan, bahkan ingin dibabtis oleh Pdt. Pius Sababalath.
Semakin banyak pendengar yang merindu-kan kabar sukacita melalui RBH, mulai dari anak-anak hingga orang dewasa. “Hingga saat ini sudah sekitar tiga ratus ribu pendengar RBH,” ungkap Pdt. Pius Sababalath.
Kehadiran RBH di Kapuas menjangkau banyak jiwa yang tidak terjangkau untuk dibawa kepada Kristus. Tuhan memakai Pdt. Pius Sababalath dengan kekuatan dan kesetiaan-Nya.
Lidya

Comments


Group

Top