HARRY Puspito (pria kelahiran Turen-Malang, 20 Pebruari 1959) adalah Sosok tenang dan sangat disiplin mengelola waktu dan kemampuannya. Dunia riset ditekuninya sejak tahun 1985, dan kini menjabat sebagai President Director MRI (Marketing Research Indonesia).
Memimpin dan mengelola perusahaan riset pasar MRI adalah pekerjaannya. Kemampuan yang dimilikinya ini pula, membuat Harry terlibat sebagai konsultan, pelatih, penulis, dan pengajar penelitian pemasaran, serta metodologi penelitian.
Keseriusan dalam pekerjaan, tidak mengurangi kecintaan Penulis goal setting ini untuk melayani Tuhan, menjadi penulis tetap REFORMATA pada rubrik managemen kita, bahkan dipercayakan sebagai pengawas di Pelayanan Media Antiokhia (PAMA).
Pengamatan Tajam
Kesadaran akan pentingnya pemberitaan tentang kekristenan semakin mendorong suami Doktrina Tehupeiory ini, untuk bisa mengabdikan kemam-puannya bersama PAMA.Harry pun mulai tertarik dengan Tabloid Reformata dan melibatkan diri di PAMA
Latar belakang research yang dimiliki ayah tiga orang anak ini, membuat dirinya berpikir secara kritis tentang perkembangan PAMA. “PAMA adalah pelayanan yang bergerak dalam bidang: tabloid, radio, TV, dan website. Pelayanan ini harus fokus dan Ekselen supaya survive. Jangan sampai merosot kualitasnya, untuk itu perlu dikembangkan dengan team yang kuat,” tandas Harry yakin.
Sorotan Harry-pun berlanjut untuk REFORMATA, sebagai sub pelayanan PAMA dibidang tabloid. Menurut Harry, “REFORMATA mampu memberi kontribusi di kelompok Kristen. Mengeksplor hal-hal penting untuk orang kristen, bahkan dari sisi ajaran: itu baik, alkitabiah, dengan teologi yang masih ketat,” ungkap Harry. “Namun memang butuh riset untuk tahu sejauh mana pendapat masyarakat. Apa konsep dan pandangan masyarakat, yang menarik dan relevan untuk diketahui dan diluruskan,” tambah Harry penuh antusias.
PAMA dengan pelayanan yang luas serta strategi bagi kebutuhan kekristenan, membutuhkan SDM-SDM yang tepat dan berpotensi. Untuk itu PAMA mem-butuhkan pengembangan SDM, yang dapat membackup pemikiran Pendiri PAMA yang cerdas dan luas. “Pentingnya regenerasi,” tandas Harry dengan cermat.
Dalam kesibukan yang tidak terbendung, Harry dengan penuh disiplin selalu lebih pagi ke kantor, untuk memikirkan dan mempersiapkan pelayanan tanpa mengambil waktu kerjanya.
Memikirkan keluarga, pekerjaan, namun juga pelayanan tidak menjadikan Harry kewalahan apalagi kacau dalam mengelola waktu dan kemampuannya. Harry sangat disiplin, dan itu terpola dalam hari-harinya, sebagai kebiasaan yang berarti.
Tak terlupakan, Harry tetap mengingat peluang besar yang dimiliki PAMA sebagai penerbit Kristen yang bisa dikembangkan. “Penting disinkronkan selu-ruh pelayanan PAMA (Tabloid, TV, Radio, Website).
PAMA perlu memikirkan kegiatan offline, yang dapat mengembangkan kreatifitas. “Hal ini dapat mem-bangun kedekatan dengan masyarakat pembaca/pendengar, melalui event-event berarti, seperti: seminar, diskusi, pendidikan jurnalistik, serta lomba menulis.. ,”pesan Harry berbinar.