Khotbah Populer

Kehilangan Nyawa, Mendapatkan Hidup

Sat, 13 October 2012 - 09:40 | visits : 1161

(Oleh: Pdt. Bigman Sirait)

Barang siapa mempertahankan nyawanya, ia akan kehilangan nyawanya. Dan barang siapa yang kehilangan nyawanya karena Aku, ia akan memperolehnya. (Matius 10: 39)

Berbicara tentang nyawa atau jiwa, kemungkinan kita berpenda-pat bahwa ini hanya masalah hidup atau mati di mana, mati dianggap hanya sekadar berhenti bernafas. Nyawa dalam konteks ini menjadi sangat menarik karena mengacu pada satu pemahaman: barang siapa mempertahankan nyawa-nya, sama saja mempertahankan cara hidupnya. Selanjutnya, ang-gapan bahwa manusia bisa me-nyelesaikan persoalan hidupnya dan menyelamatkan diri sendiri, justru salah. Karena keselamatan tidak tergantung pada kemam-puan manusia. Keselamatan meru-pakan anugerah Allah. Karena itu, barang siapa berani kehilangan nyawanya karena Kristus, maka ia akan mendapatkannya.

Prinsip-prinsip apa saja yang hen-dak kita pelajari dari paradoks ini? Yang pertama, berani berserah penuh kepada Tuhan. Keberanian ini bersifat mutlak, dan merupakan tuntutan dari Tuhan yang tidak bisa ditawar-tawar. Maka kita harus berani mempersembahkan, mem-pertaruhkan seluruh hidup kita ke dalam tangan Tuhan. Prinsip per-tama ini, bisa jadi merupakan ba-gian yang tidak kita sukai. Tetapi jika ditanyakan, apakah kita rela mati untuk Kristus? Kita semua pasti menjawab, Rela. Hal ini mirip dengan ketika Petrus ditanya oleh Yesus, beberapa saat sebe-lum menyerahkan diri pada pasu-kan tentara Romawi. Saat itu Petrus menjawab, Guru, orang lain boleh lari, tetapi aku tidak. Namun Yesus yang mengetahui isi hati manusia mengatakan, Pet-rus, sebelum ayam berkokok, kau telah tiga kali menyangkal Aku. Dan ternyata perkataan Yesus itu terbukti, sebab Petrus melarikan diri begitu tentara datang me-nangkap Yesus.

Dari paparan di atas dapat kita lihat bahwa pada awalnya Petrus memang punya semangat yang bagus. Dan kita pun seharusnya memiliki semangat yang bagus. Tetapi biarlah kita menjelajahi seca-ra jujur hati nurani sendiri, agar ti-dak terjebak pada statemen emosi kosong belaka. Jujur pada hati nurani, menjadikan kita peka untuk mencermati sikap hidup kita.

Kalau secara jujur kita menemu-kan bahwa kita tidak berani berse-rah diri, berdoalah supaya kita se-makin dikuatkan Tuhan. Berdoa-lah, memohon belas kasihan dari Roh Kudus, yang akan menuntun dan memampukan kita menyerah-kan seluruh jiwa raga pada Tuhan. Berani berserah artinya sama dengan berani kehilangan segala yang kita miliki bahkan kehilangan nyawa. Sikap berani kehilangan ini pernah dicontohkan oleh Rasul Paulus dengan berkata, Ada pun hidupku ini bukannya aku lagi, te-tapi Kristus hidup di dalam aku. Waktu dia kehilangan dirinya, justru dia mendapatkan kesejatian dirinya.

Kenapa kita harus berserah diri? Karena dulu kita berkuasa penuh atas diri kita, sehingga kita tidak mau mengendalikan diri, juga tidak mau diatur.  Tetapi sekarang kita harus berserah diri, mau diatur oleh Tuhan. Dan bukan diri kita lagi yang menjadi pemerintah atas hidup kita, tetapi Tuhan.

Prinsip kedua, kita harus berani melupakan diri. Dalam hal ini kita harus melupakan identitas, kepua-san, kebanggaan, kebahagiaan di waktu lampau yang kita sebut se-bagai hidup lama. Sebagai ganti-nya, sekarang kita mesti berani berpindah ke dalam kehidupan yang baru, yang sesuai dengan selera dan kehendak Tuhan. Jika ingin mendapatkan kehidupan yang baru, maka rela-lah kehila-ngan. Berani berserah, berani melepas harga diri, atau melupa-kan diri sendiri.

Dalam Alkitab sering ditemukan istilah manusia lama dan manu-sia baru . Kita jangan mau terus berkutat sebagai manusia lama, melainkan harus hidup sebagai manusia baru. Jika kita tetap hidup sebagai manusia lama, dan tidak pernah mau menjadi manusia yang baru, maka kita tidak akan pernah merasakan betapa nikmatnya menjadi manusia baru itu. Dan oleh karena kita hanya berkutat pada kemanusiaan lama itu, maka nilai kepercayaan yang ada pada kita pun menjadi sia-sia.

Namun perlu dicamkan, melupa-kan diri dalam konteks ini tidak sama dengan lupa diri. Lupa diri adalah sesuatu yang negatif, kare-na lupa diri adalah suatu kondisi yang tidak terkendali (out of con-trol). Keberanian melupakan diri yang kita maksudkan di sini adalah kemauan yang utuh untuk mena-ruh seluruh kehendak Allah men-jadi kehendak yang final di dalam hidup kita. Selanjutnya, kehendak Allah yang sudah terpateri di dalam hidup itu kita laksanakan dalam aktivitas sehari-hari. Jadi, penye-rahan mutlak kepada Tuhan, itu menjadi sesuatu yang tidak bisa ditawar-tawar. Kita harus berani berserah diri dan melupakan diri.

Kedua kata kunci tersebut, yakni berserah diri dan melupakan diri, sangat penting kita resapi su-paya kita tidak berkutat hanya ke-pada diri, kebutuhan diri, sema-ngat diri, tetapi berkutat pada ke-hendak Allah. Kita pun semestinya senantiasa bertanya pada diri sendiri, Apa yang diinginkan Allah untuk saya lakukan, sehingga  pe-ngabdian saya total kepada Dia? Dan jika kita mampu menjawab-nya, yakni dengan mampu melak-sanakannya, ini akan menjadi ke-sukaan tersendiri di dalam hidup kita. Itulah yang membuat kita mengalami dan mendapatkan kesejatian hidup. Kita mendapat-kan kesejatian hidup ketika kita berani melupakan diri kita yang dulu, kehidupan yang lama itu, sehingga mendapatkan diri yang sekarang, yang baru. Ini terjadi karena kita berani berserah.

Keberanian yang ketiga, yakni berani berkorban untuk Tuhan, menuntut kita untuk mempersem-bahkan seluruh kehidupan untuk Tuhan. Sehingga dengan demi-kian, di dalam kehilangan kita akan mendapatkan. Dan di dalam kehi-langan itulah kita akan menemu-kan. Alkitab memberi satu ilustrasi yang menarik, yakni biji gandum tidak akan pernah tumbuh men-jadi sebatang pohon gandum ka-lau biji itu tidak mati lebih dahulu. Kenapa? Karena biji gandum yang mati itu harus terlebih dahulu membelah dirinya. Dan oleh karena kematian, dan kemudian membelah dirinya itulah biji gandum tersebut mendapatkan kehidupan. Dengan kata lain, biji gandum mendapatkan kehidupan (yang baru) justru kalau dia membelah dirinya terlebih dahulu. Jika dibandingkan dengan manu-sia, maka manusia harus berani mengorbankan dirinya untuk Tu-han, baru kemudian memperoleh hidup yang baru.

Maka keberanian untuk berse-rah, keberanian melupakan diri, dan keberanian untuk berkorban, sangat kita butuhkan untuk membelah diri kita sehingga dari diri kita muncul kehidupan dan pengharapan. Jadi penyerahan diri bukan suatu wujud dari ketidak-berdayaan. Mengorban-kan sesuatu bukan berarti akan kehilangan sesuatu. Melupakan diri tidak berarti kehilangan diri. Tetapi yang akan kita dapatkan justru sebaliknya, yakni kehidu-pan, kekuatan, dan identitas diri yang baru.*

(Diringkas dari Khotbah Populer oleh Hans P.Tan)

Comments


Group

Top