Dari Redaksi

Reformasi Oleh Iman

Fri, 30 November 2012 - 15:47 | visits : 2142
Tags : Iman Reformasi

 

Lebih 400 tahun lalu Gereja sudah menancapkan pasak reformasi.  Momentum ilahi itu ditandai dengan dipangnya 95 dalil yang disusun oleh Martin Luther sebagi bantahan atas penyimpangan gereja dengan ajarannya yang korup.  Gerbang gereja Wittenburg menjadi saksi, sekaligus media yang dipakai untuk memajang ke 95 naskah yang terbukti efektif mempengaruhi umat. 

 

Efektifitas dan popularitas dari ide teolog Jerman itu kian bertambah ketika Gutenberg dengan penemuannya mesin cetak di tahun 1450-an.  Dalam sekejap ide reformatif itu sudah meluas, bahkan dalam kurun sebulan, dalil-dalil Luther sudah menjangkau seluruh Jerman.  Tidak heran jika Luther sempat berujar bahwa mesin cetak merupakan anugerah terbesar dari Tuhan, selain keselamatan.

 

Andai saja Martin Luther hidup di era Teknologi dan Informasi seperti di jaman ini.  Dalam hitungan menit, bahkan detik, informasinya sudah pasti akan tersebar dan dinikmati orang di seluruh dunia, bukan di seluruh Jerman saja. 

 

Gebrakan Reformasi Gereja oleh Luther gemanya terus terdengar hingga kini dan diperingati setiap tanggal 31 Oktober.  Reformasi terus mengingatkan umat agar kembali kepada kebenaran sejati.  Kembali kepada Alkitab, sumber kebenaran itu.  Sebab disanalah ada informasi tentang sang sumber kebenaran, Injil.  Injil yang adalah Yesus sendiri yang rela mati, bangkit dan naik ke surga itu menjadi sang penganugerah dan pemrakarsa kebenaran, pemberi keselamatan, dan teladan kesejatian korban. Injil itu yang menjadi landasan bagi iman, yang kemudian mengantarkan orang untuk mampu beriman dan menghidupi iman itu.  Ya, “Hanya Karena Iman”! Reformasi adalah ekspresi iman sejati.  Ekspresi ketidaksetujuan, ekspresi perlawanan terhadap ajaran yang berlawanan dengan iman.

 

Reformasi menyegarkan memori umat untuk terus hidup dan berjalan dalam iman.  Sebab Injil itu tidak sekadar memberi kemampuan orang untuk dapat beriman, tapi juga memiliki kuasa untuk menolong orang hidup dalam iman.  Menolong orang mengarah kepada jalan yang benar, jalan yang tapat. Hidup dalam iman adalah soal bagaimana aku hidup oleh Injil dan di dalam Injil.  Inilah pertandingan yang menyenangkan, di mana orang menjalankan apa yang menjadi kehendakNya. Iman itu juga menguatkan langkah hidup orang, menyinari gelapnya jalan, memampukan orang dapat melihat kebenaran dan memandang surga, bukan diri.  Slawi

 

Comments


Group

Top