Khotbah Populer

Prinsip Reformasi Sejati

Fri, 30 November 2012 - 15:48 | visits : 1915
Tags : Prinsip Reformasi Sejati

 

 

Oleh Pdt.Bigman Sirait

 

 

 

 ‘Reformasi’, istilah yang kerap didengungkan menjelang dan pasca kejatuhan jatuhnya Orde Baru. Hasrat untuk menghadirkan perubahan yang begitu besar di bangsa ini menggulirkan istilah ini sebagai penyemangat perjuangan oleh mahasiswa.  Tapi apa lacur, reformasi sudah didengungkan, Orde Baru telah digulirkan, namun perjuangan itu seperti tak membuahkan hasil sama sekali. 

 

 

 

Lihat saja, di masa yang katanya era reformasi ini, cita-cita untuk mendapatkan kehidupan berbangsa dan bernegara yang tenang, aman, damai, sejahtera, adil, masih saja menjadi angan-angan.  Terbukanya keran reformasi seperti membuat rakyat menjadi lupa diri, bahkan menganggap kebebasan adalah kebebasan sebebas-bebasnya, seperti tak lagi ada batas.   Lihat, ada orang bersama kelompoknya, atas nama suara mayoritas merasa memiliki kebebasan melakukan apa saja, termasuk menghalangi umat lain melakukan ibadah agamanya. Itulah gambaran reformasi yang kelahirannya ditunggu-tunggu sekian lama itu tergolong prematur.

 

 

 

Sesungguhnya, reformasi seperti apa, atau yang bagaimana, yang diperlukan bangsa ini? Reformasi yang sejati, reformasi oleh dan dari Kristus itulah jawabannya. Hanya oleh Kristus, hanya Firman yang hidup, hanya Injil itu yang mampu melakukan reformasi yang sejati. Injil, kematian Kristus, penebusan dosa, yang memuaskan tuntutan Allah di dalam Kerajaan Sorga itu satu-satunya pusat reformasi yang sejati.  Kembali kepada Injil itulah kuncinya.  Dalam Injil ada kekuatan dasyat yang mampu mereformasi.  Sejarah gerakan reformasi membuktikan bahwa kekuatan dasyat yang sama di abad pertengahan (sekitar abad XV),  membawa gereja kembali kepada kebenaran.  Gereja pernah benar, gereja pernah setia, namun sayang, dalam perjalanannya gereja nyatanya juga pernah salah, menyeleweng, lari dari rel-nya. Itulah sebabnya, di dalam pelariannya, di dalam kesalahannya, gereja perlu dan harus kembali ke terminal yang sebenarnya, pada kebenaran yang seharusnya. Itulah reformasi.  Kekuatan reformasi itu membawa kembali gereja ke rel-nya. Karena itulah, dalam kehidupan gereja, prinsip-prinsip sola gracia, sola vide, sola scriptura, perlu ditegakkan lagi, untuk kembali setia kepada Alkitab. Prinsip ini bukan sesuatu yang baru, sebab an-sich substansinya sudah ada di dalam Alkitab. Tetapi prinsip-prinsip itu kembali mengingatkan, mengajak semua orang percaya kembali kepada Tuhan, kembali kepada Alkitab.

 

Reformasi yang sejati membawa orang kembali kepada basic-nya. Direformasi kembali, artinya dikembalikan kepada format semula, kembali pada yang asli, mundur (retreat), menarik diri dari keramaian, masuk ke dalam kesepian untuk merenung ulang, menemukan jati diri, menemukan kebenaran. Itulah reformasi yang sejati.  Reformasi itu menuntut, memerlukan suatu terminal, tempat berpijak yang tepat. Tempat berpijak itu adalah kebenaran yang mutlak.

 

Meski demikian, setiap kita pun perlu memeriksa diri apakah selalu mengalami reformasi? Karena reformasi itu bersifat ‘senantiasa’. Artinya, kita harus senantiasa diperbaharui. Jadi dalam konteks waktu, reformasi itu selalu memperbaharui kehidupan orang-orang percaya, selalu memperbaharui hidup orang-orang Kristen. Dia senantiasa menuntut pembaharuan. Dan kita, setiap hari perlu diperbaharui oleh Yesus Kristus yang telah berfirman, telah berbicara,  supaya kita selalu diperbaharui setiap hari, setiap pagi kita merasakan kasih yang baru dari Tuhan kita yang hidup.  Sehingga pembaruan yang berlaku terus-menerus itu membawa kita makin menyerupai Dia, Tuhan dan juru selamat kita. Kembali kepada citra kita yang semula, kepada gambar kita. Itulah reformasi yang utama.

 

 

 

(Disarikan oleh Slawi)

 

Comments


Group

Top