Dimensi Iman

Natal, Lahirnya Pengharapan

Wed, 16 March 2011 - 14:47 | visits : 4051
Tags : Natal Pengharapan

NATAL memang sudah kehilangan  makna sejati. Sekarang Natal dipergelarkan dalam bentuk wah. Itu tidak salah, yang menjadi salah jika hal itu diwujudkan dengan biaya yang luar biasa. Pada saat bersamaan, berapa ba-nyak orang menanti maut karena kelapa-ran? Berapa banyak orang meratap dan merintih? Damai hanya ada di dalam gedung gereja. Pengharapan hanya ada di dalam khotbah, bukan dalam kenya-taan. Bukankah itu suatu kegentingan di mana orang Kristen  perlu  merenung ulang, apa itu Natal?

Coba kita renungkan. Apakah kita harus kasihan kepada orang-orang yang tidak bisa merayakan Natal seperti kita karena mengalami banyak kendala? Mungkin perayaan Natal kita akan membawa kita ke neraka, tetapi mungkin Natal yang dirayakan dalam keprihatinan akan mem-bawa mereka ke sorga. Natal yang serba kecukupan dan luar biasa mungkin mem-buat kita lupa sungguh-sungguh berdoa. Tetapi Natal penuh tangisan dan airmata, doa yang dinaikkan bisa menjadi gegap gempita di dalam sorga.  

Bagaimana dengan Natal pertama? Natal yang sangat simbolik dengan kehan-curan, Di sana muncul tokoh bernama Herodes. Dia memerintahkan sesuatu yang sangat menakutkan dan mengeri-kan dan tidak pernah terbayangkan, dan menjadi satu noda yang menyakitkan bagi Betlehem: membunuh anak-anak di bawah usia dua tahun! Kehancuran di Natal pertama itu apa? Yang pertama adalah banjir darah, kema-tian anak-anak di bawah usia 2 tahun. Mereka harus mengalami pembunuhan, mati demi ambisi Herodes yang tidak ingin ada saingan. Menakutkan dan mengerikan. Natal pertama harus dibayar dengan darah.

Bagaimana jika sekarang ada bom? Marilah berdoa, kalaupun bom itu meledak semoga kita masuk sorga. Kenapa mesti pusing? Kita toh tidak bisa melarang, kita tidak bisa marah. Orang mau marah silakan, itu urusan mereka. Tetapi bagaimana menyatakan cinta kasih, itu tanggung jawab kita.  Itu sebab bagi saya tidak terlalu masalah ketika menyikapi apa yang sedang terjadi. Bagi  saya, tidak terlalu penting apa yang sedang terjadi di dunia, tetapi bagaimana kita berjalan dan  bekerja melakukan apa yang Tuhan mau.

Yang kedua, banjir air mata. Di sana ada hawa nafsu. Darah tumpah di mana-mana, maka air mata mengalir pula di mana-mana. Bahwa Natal suka cita itu betul, tetapi sukacita yang belum “titik”, tapi “koma”. Tidak mungkin orang Kristen bersuka cita  waktu Natal, tanpa mengeluarkan air mata. Tidak mungkin orang Kristen bersuka cita waktu Natal tanpa menangis. Kenapa? Karena begitu Anda suka cita merenungkan kasih Tuhan, bisakah Anda merenungkan dan merasakan itu tanpa menangis? Tidak mungkin engkau tidak akan menangis di dalam suka cita, “Tuhan, kenapa Kau pilih aku? Kenapa Kau cintai aku?” Maka keluar-lah air mata penuh suka cita. Kalau suka cita lalu mabok, itu orang sekarang.

Ketiga, banjir amarah. Karena Herodes sudah gelap mata tidak tahu lagi kawan atau lawan. Karena gelap mata, dia tidak berhitung lagi. Baginya, yang penting tidak boleh ada orang lain menjadi raja, sekalipun dia tidak mengerti apa yang dimaksud orang Majus sebagai “Raja Orang Yahudi”.

Maka Natal pertama memang porak poranda, hancur berantakan, tetapi justru di situlah paradosks daripada Natal itu. Justru di kehancuran itulah damai bersemi. Justru di kehancuran itulah damai dinyata-kan bagi orang yang diperkenannya. Anuge-rah Natal bukan murahan. Tidak semua orang bisa berbahagia karena Natal kecuali yang diperkenan Tuhan. Anda berhak atas kebahagiaan Natal jika hidup berkenan dan diperkenan Tuhan. Kebahagiaan itu menjadi milik orang yang kuat, sehingga Natal membuat dia teguh di tengah kepahitan. Natal membuat dia teguh di tengah ancaman.

Kehancuran memang ada dan tidak ter-hindarkan. Jangan pernah mimpi akan ada saat di mana tidak ada kehancuran. Itu nanti di sorga. Jangan pernah mimpi akan ada saat tidak ada kesusahan, lalu kita menjadi orang Kristen yang begitu mulus. Kitab Wahyu mengatakan: “Makin lama manusia makin jahat, makin lama manusia makin memberontak”. Itu gambarannya. Tetapi berbahagialah mereka yang teguh berharap kepada Dia, karena di antara puing-puing kehancuran itu muncul peng-harapan yang luar biasa dari Yesus, simbol pengharapan.

(Diringkas dari khotbah Pdt Bigman Sirait)

See also

jQuery Slider

Comments


Group

Top