Dimensi Iman

Dari Iman Kepada Iman

Fri, 30 November 2012 - 15:52 | visits : 3881

Pdt. Bigman Sirait

 

From Faith To Faith, kalimat terkenal ini pernah dilontarkan Rasul Paulus, dalam Roma 1:16-17, namun dipopulerkan, dibuat menjadi lebih dikenal lagi oleh Martin Luther, tokoh terkemuka dan Reformator gereja. Luther percaya, bahwa Sola Fide, “Hanya Karena Iman” dia diselamatkan.  Itu menjadi pergumulan dalam pencariannya dalam hidup, memahami  apa itu anugerah Tuhan. 

 

Iman adalah proses, iman adalah perjalanan panjang orang benar, orang percaya, dari iman memimpin kepada iman, orang benar akan hidup oleh iman.  Iman seperti apa, yang bagaimana?  Apalagi kalau bukan Iman kepada Injil, Yesus Kristus yang telah mati, bangkit dan naik ke surga itu, tidak lebih tidak kurang.   Bukan soal percaya, tapi iman juga terkait persoalan hidup.  Ya, hidup benar, menaati kehendak dan perintah Kristus, meneladani dan hidup seperti Kristus hidup. 

 

Iman dan keselamatan

 

Masih ingatkah kita kapan titik balik kehidupan.  Salah satu tandanya adalah adanya pertobatan.  Pada waktu bertobat orang percaya akan mempunyai iman kepada Yesus Kristus, Anak Allah, pertanyaannya adalah, dari mana iman itu?  Alkitab, khususnya dalam 1 Kor 12:3 dikatakan bahwa Itu adalah anugerah oleh Roh Kudus. Sebab tidak ada satu orang pun dapat percaya kepada Kristus kalau bukan karena Roh Kudus.  Jadi itu bukanlah pilihan orang, bukan manusia yang hebat,  tapi semua itu adalah karya Roh.  Yohanes juga menceritakan bahwa Roh Kudus akan menginsafkan manusia akan dosa kesalahan dan seterusnya.  Roh menyadarkan orang bahwa dia adalah manusia berdosa.  Dengan demikian manusia juga dimampukan untuk beriman dalam Kristus.  Beriman kepada kebenaran.  Pertobatan dimulai dari iman percaya kepada Injil, yakni Kristus itu sendiri.  Dan iman itu adalah anugerah dari Roh Tuhan, Roh yang membuat orang mampu beriman, bisa percaya, bisa menyerahkan dir kepadaNya. 

 

Tidak berhenti di situ, iman itu juga terus bergerak maju dalam hidup beriman.  Jatuh-bangun, porak-poranda, namun tetap progress menuju puncak.  Orang dapat beriman dan percaya karena anugerah, orang bisa menjalani hidup keberimanannya itu juga dalam anugerahNya.  Hidup beriman, tidaklah seperti tafsiran banyak orang masa kini yang kerap dikaitkan dengan kekayaan dan kesuksesan.  Dalam Korintus iman dan hidup dalam keberimanan tidaklah berbicara soal harta, ini jelas. Di sini Korintus menggambarkan orang yang berdosa sebagai orang miskin, orang sakit, orang payah yang disembuhkan oleh bilur Kristus, penebusan dosa itu.  Dalam konteks ini, orang itu diperkaya oleh Kristus.  Korintus hendak menggambarkan kondisi orang dalam keberdosaan adalah orang yang miskin, sementara mereka yang kaya-raya adalah orang yang hidup dalam keberimanan.  Karena kaya bukan angka.  Itu juga mengapa Tuhan Yesus berkata, untuk apa kita memiliki seluruh dunia, tetapi kehilangan kehidupan yang sejati.  Kehidupan sejati itulah kekayaan sebenarnya.  Kekayaan dunia itu sebenarnya tak lebih dari kemiskinan dan pemiskinanan. Kalau memang Allah memberi kekayaan di dunia ini, itu bukanlah dosa.  Sebaliknya, kalau hidup kita terus menerus miskin, hari-hari diwarnai kesusahan, itu bukan pula malapetaka. 

 

Iman sejati menolong orang mengarah kepada jalan yang benar, jalan yang tapat. Form faith to faith, adalah bagaimana aku hidup oleh Injil dan di dalam Injil.  Hal ini menjadi pertandingan yang menyenangkan.  Di situ orang hidup dan bertanding menjalankan apa yang menjadi kehendakNya. Iman sejati itu untuk menguatkan langkah hidup kita, iman menyinari jalan kita yang gelap, iman memampukan orang untuk dapat melihat kebenaran.  Iman menolong kita bisa memandang surga, bukan diri.  Form faith to faith, dari tidak mengenal kebenaran menjadi mengenal kebenaran.  Dari mengenal kebenaran, sampai makin mengenal kebenaran, itulah prosesnya.

 

(Disarikan Oleh Slawi)

 

 

 

See also

jQuery Slider

Comments


Group

Top